Neutral Milk Hotel, Misteri Abadi Jeff Mangum, bagian 1

Oleh Stephen M. Deusner, alih bahasa oleh A. Yasmeen

Menulis mengenai Jeff Mangum berarti menulis hal-hal yang ada disekitar Jeff Mangum. Mantan otak Neutral Milk Hotel ini adalah salah satu penyendiri indie rock terbesar, seorang seniman yang merilis mahakarya yang menghantam secara emosional pada tahun 1998 dan kemudian keluar dari lingkungan musik. Selama bertahun-tahun, dia lebih seperti sebuah misteri daripada seseorang: Dia sangat jarang melakukan show, tidak pernah memberi wawancara, tidak pernah merekam musik baru, tidak pernah memperhatikan pasukan fans dan pengikutnya yang kian hari kian bertambah. Rumor yang berkembang pesat: Apakah Mangum telah menjadi korban mental rock ’n’ roll, dengan kesehatan psikologis rentan seperti Syd Barrett dan Nick Drake? Atau apakah dia sangat terluka secara emosional dari pengalaman menulis In the Aeroplane Over the Sea sehingga dia mengasingkan diri dari sorotan untuk menenangkan jiwanya? Apakah dia meninggalkan musik untuk selamanya? Apakah dia mendalami seni visual saja? Apakah dia nyata? Atau hanya sebuah hoax? Sebuah tipuan? Hanya sebuah figmen dari imajinasi kolektif kita?

Dalam kenyataan, Mangum adalah sesuatu yang lebih sederhana: Dia hanyalah seorang pria biasa. Dia memiliki bakat akan metaphor yang sangat menggugah, karakter vokal yang terdengar sangat kuat karena ditarik pada meter dan kunci nada, kecintaan akan gitar akustik dengan suara berbalut fuzz tebal, dan kekaguman akan musik folk Eropa Timur. Mungkin salah satu karakteristiknya yang paling khas, setidaknya bagi kita yang hanya mengenalnya sebagai seorang legenda—sebuah figure dalam foto buram hitam putih, sebuah nama yang dibisikkan dalam bahasan referensi—adalah ketidakpeduliannya akan omong kosong promosi musik kontemporer. Mangum bukanlah artis pudar, bukan jiwa yang rapuh, tapi ketiadaannya di lingkungan musik , ironisnya, hanya membuatnya makin popular selama bertahun-tahun. Dengan menghilang, dia menekankan tema-tema yang ada dalam lagunya, yang mengungkapkan rasa kehilangan yang teramat besar, penderitaan dan tragedi dengan vokal yang kokoh dan dengan puisi mendalam mengenai menekukkan jari menjadi duri dan melihat puncak gunung tercemar air mani. Dia merealisasikan rasa kehilangan yang dia nyanyikan—menjadikannya nyata, menjadikannya tak terbantahkan. Tidak berakhir ketika nada terakhir Aeroplane berakhir. Lagu terakhir, “Two-Headed Boy Pt. Two,” berakhir dengan suara seseorang, sepertinya Mangum, bangkit dari kursi dan meninggalkan ruangan. Inilah yang benar-benar dilakukan Mangum.

Cover album In The Aeroplane Over The Sea

Tanpa follow-up, Aeroplane tak pernah kehilangan kilaunya atau kesegarannya; mantranya tak pernah terpatahkan. Hasilnya, album itu tetap memiliki misterinya bahkan setelah 13 tahun dirilis. Liriknya tetap khusus dan memiliki gaya tertentu, dengan referensi tersembunyi mengenai Anne Frank dan bocah kecil berkepala dua dan raja bunga wortel, Mangum bagaikan menyampaikan berita dari dunia lain. Makna dibalik karakter-karakter ini tidak pernah tebuka, tidak juga menjawab berbagai teka-teki yang diajukan ke pendengarnya. Hanya sedikit album yang tetap popular, dipelajari mendalam, dan diperdebatkan dengan sungguh-sungguh tanpa memunculkan sedikitpun pijakan yang kuat, tanpa memberi makna khusus yang sama bagi semua pendengar. Namun Aeroplane, seperti juga debut Neutral Milk Hotel tahun 1996, On Avery Island, terbukti sangat sulit dipahami, memungkinkan tiap pendengar membangun koneksi dan interpretasinya sendiri. Album ini menjadi apapun yang diinginkan oleh pendengarnya.

Jadi ada semacam keraguan yang bisa dipahami mengenai kembalinya Mangum. Akankah kemunculannya menghapus misteri itu dan memecahkan teka-teki itu? Akankah dia mematahkan mantranya? Sampai saat ini, tidak. Penampilannya sangatlah sedikit dan jarang, tempat pertunjukkan dan acara dipikirkan dengan hati-hati. Pada 2010, dia memainkan set singkat di New York untuk amal bagi Chris Knox, musisi New Zealand yang menderita beberapa stroke pada 2009, yang diikuti dengan set yang lebih pendek di Brooklyn. Mulai Agustus 2011, Mangum jadi cukup produktif, dengan set di All Tomorrow’s Parties di Asbury Park, New Jersey, dan pertunjukan di Woodstock dan Toronto. Penampilannya yang paling terkenal juga merupakan penampilan yang paling aneh: Pada bulan Oktober, dia bernyanyi di hadapan pendemo Occupy Wall Street menyanyikan lagu lama favorit seperti “Holland, 1945” dan mengkover lagu Minutemen “Themselves.” “Kalian telah melakukan hal yang sangat indah,” Mangum berkata ke para pendemo sambil meninggal panggung kecil itu. Lebih dari tokoh-tokoh besar dan bintang rock yang mengikuti tren dengan mendukung pergerakan Occupy, penampilan Mangum adalah yang paling menggerakkan dan tulus yang berhubungan dengan Occupy Wall Street—bukan musik protesnya, tapi sesuatu yang membuat demonstrasi itu menjadi cukup penting.

Kemunculan kembali Mangum secara bertahap—semacam mengetes keadaan, tanpa janji bahwa tiap pertunjukan tidak akan jadi yang terakhir—memuncak dengan dirilisnya box set vinyl mewah yang mengumpulkan dua album Neutral Milk Hotel, EP 1994 Everything Is yang sudah tidak dicetak lagi, dan sejumlah track live, outtakes, dan track langka. Meski album-album itu aslinya dirilis di Merge Records, Mangum merilis set ini secara ekslusif melalui web site nya sendiri, Walking Wall of Words. Seperti karakternya, tidak ada pengumuman untuk pers. Tidak ada contoh yang dikirim ke kritikus sebelum dirilis; set pertama akan dikirimkan ke penggemar pertama yang memesannya. Tidak ada rilis pers, catatan samping, dan iklan. Box set ini bahkan tidak ada judulnya. Dia muncul begitu saja.

Mengulas set ini tentunya harus menerima adanya lubang dalam cerita. Menerima musik Neutral Milk Hotel dari pendapat dan perspektif orang lain, apakah pengalaman mereka bersifat promosional, atau analitis, atau spiritual.

Pada akhir 1990an, Ben Goldberg bekerja sebagai publicist di Merge Records, dan meski dia tidak melakukan promosi untuk In the Aeroplane Over the Sea, dia ingat kegembiraan yang muncul di kantor Merge. “Merge menjalankan usaha seperti sebuah keluarga,” dia bercerita. “Kapanpun ada band kami yang mengunjungi kota, itu seperti kunjungan keluarga, dan ada perasaan bahagia yang tulus ketika berkumpul dengan satu sama lain. Sangat menarik, dan orang memilih untuk bergabung dengan Merge karena itu. Mereka ingin benar-benar berhubungan dengan orang yang menggarap musik mereka. Seperti itulah semua orang-orang Neutral Milk Hotel people—sangat ramah dan terbuka.”

Aeroplane menerima banyak ulasan positif ketika dirilis, dan sedikit kritik dari pembenci, namun bahkan Goldberg sekalipun kaget dengan popularitas album itu yang terus berkembang pada dekade terakhir ini. “Sangat mengagumkann melihat perkembangannya, seperti terus berbicara kepada orang-orang tanpa ada momen dimana dia berbicara dengan keras. Dia berkembang pelan tapi pasti. Saya kira ini bisa dikatakan sebagai word of mouth, karena itulah bagaimana album ini berkembang. Dan word of mouth tidak terjadi dalam waktu singkat.” Bagaimana dia berkembang akan menentukan sebesar apa dia akan berkembang: Tanpa adanya iklan cetak, edorsements apapun, dan mp3 promosional, Aeroplane tidak pernah menjadi sebuah produk, yang memungkinkan pendengar untuk mengklaim kepemilikan atasnya.

“Saya merasa seperti mempelajari sebuah pelajaran personal penting mengenai cara terbaik bekerja dengan band dan membantu mereka memiliki karir, bukan hanya menjadi fenomena singkat,” Goldberg menjelaskan. “Dan sangat ironis karena Neutral Milk Hotel adalah band yang mengajarkan pada saya bahwa seniman bisa memiliki karir, karena umur NMH yang sangat singkat.” Pelajaran itu sangat dipahaminya sejak dia meninggalkan Merge. Goldberg memiliki dan menjalankan Ba Da Bing Records yang berpusat di Brooklyn, yang membimbing karir Beirut dan Sharon Van Etten, diantara yang lain. Goldberg juga melakukan pekerjaan produksi untuk box set Neutral Milk Hotel baru, dari meneliti biaya hingga menyusun produksi dan mengawasi pemesanan. Tugasnya adalah, dia bilang, “mencoba menyatakan ide, yang awalnya dari Jeff’s, dan membuatnya jadi sungguhan dalam hal produksi dan bagaimana dia dirilis dan bagaimana membuat orang tahu akan hal itu tanpa membuat suatu hype atau menyatakan keberadaannya. Kami cuma ingin bisa bilang, ini sesuatu yang kami kerjakan dengan susah payah dan kami bangga akan hal ini dan ini mewakili musik yang akan kamu temukan di dalamnya.”

Seorang kawan lama Mangum, Goldberg selalu menghormati pendekatan “menjauhi” si penyanyi itu pada bisnis musik. “Hanya tidak ada ketertarikan pada Jeff” akan aspek bisnis musik itu, dia bilang. “Saya telah bekerja dengan banyak band, dan banyak dari mereka ingin keduanya. Mereka tidak ingin melakukan banyak press dan bicara dengan banyak orang, tapi mereka ingin dapat keuntungan mendapatkan banyak ulasan pers. Hal yang menakjubkan mengenai Jeff adalah dia benar-benar tidak peduli. Tidak ada kecemburuan atau kekurangajaran sedikitpun. Dia hanya tidak menganggapnya berhubungan dengan musik yang dia buat atau dengan penggemarnya.”

Hasilnya, box set baru ini bukanlah sebuah reissue standard. Album aslinya masih tersedia di Merge Records, dengan kover aslinya. Lebih lagi, box set ini tidak mencoba memberi argument posisi Mangum dalam sejarah rock, maupun catatan pinggir yang ekstensif atau menampilkannya sebagai sesuatu lebihd ari album bagus dengan penggemar fanatic. Ini Cuma rilisan ulang yang mewah, sebuah hadiah bagi penggemar yang sabar, jadi penekanannya adalah pada membuat sesuatu yang unik, namun aksesibel —sesuatu yang penggemar atau kolektor akan bangga memilikinya di raknya. “Kami tidak ingin membuatnya super-spesial yang kemudian harganya $500,” kata Goldberg. “Kami ingin membuatnya aksesibel sebisa mungkin untuk semua orang, dengan harganya juga.”

Di sisi lain, bentuknya harus vinyl; tidak bisa lainnya. “Ada kualitas fisik yang sangat autentik di vinyl yang tidak ada di CD,” tutur Goldberg. “Anda bisa melihat alurnya, Anda benar-benar memegang musiknya, bukan nomor digital yang diterjemahkan jadi suara. Ada sesuatu mengenai hal itu yang menghasilkan koneksi yang sangat berbeda. Ini mengingatkan Anda agar bisa menghargai apa yang Anda dengarkan dan meresponnya.” Itu sangat penting bagi semua rilisan Neutral Milk Hotel, namun terutama untuk Aeroplane, yang merupakan inti dari mitologi Mangum. “Album Aeroplane adalah salah satu album yang mampu memberi keyakinan bahwa musik bagus akan bertahan dan pada akhirnya didengar, bahwa orang akan terus menggenggamnya. Anda hanya perlu kesempatan untuk mendengarkannya.”

(bersambung ke bag. 2)

artikel aslinya dimuat di pastemagazine, bisa diakses di sini

This entry was posted in Records, Stuff and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply