Day #7. The Big Lebowski: The Dude Abides

Ini adalah salah satu film favorit saya, sepanjang masa. Saya sudah menontonnya entah berapa ratus kali. Oke, mungkin tidak sampai segitu banyak, tapi tetap berkali-kali, dan tidak pernah bosan. Film ini bisa menghibur dan membuat saya tenang saat saya merasa down, film ini bisa membuat saya berpikir saat saya ingin menikmati sajian yang bermakna, film ini bisa menjadi apapun yang saya inginkan. Dan saya tahu saya bukan satu-satunya yang berpendapat demikian, ada banyak sekali penggemar fanatik film ini, yang bahkan kemudian mengadakan acara tahunan kumpul-kumpul di Luoisville, Kentucky, AS, diberi nama Lebowski Fest. Mereka mengenakan kostum seperti para karakter di film, bermain bowling semalam penuh, saling bertukar quotes, bersenang-senang. Para fans yang lebih gila malah mendirikan the Church of Dudeism, sebuah agama berbasis kebijaksanaan the Big Lebowski. Terdengar cukup sinting, tapi dibalik itu semua, tak bisa disangkal bahwa film ini memiliki kebijaksanaan mendalam yang hanya bisa dirasakan jika Anda menonton dengan rileks dan pikiran terbuka.

Cerita utamanya: dua penagih hutang salah mengira Jeff “The Dude” Lebowski sebagai Jeff lebowski lain, yang seorang miliuner yang berhutang pada mereka. Salah satu penagih hutang itu kemudian mengencingi karpet di rumah the Dude. The Dude yang ingin mendapatkan kompensasi atas karpetnya yang dikotori kemudian mendatangi si Lebowski yang miliuner, Setelah itu dia menerima sebuah pekerjaan cukup aneh dari si Lebowski dengan bayaran cukup tinggi. Dalam melakukan pekerjaan itu, the Dude kemudian menerima bantuan dari Walter Sobchak, kawan bowlingnya yang seorang veteran vietnam dan memiliki masalah pengendalian emosi. Tak disangka keadaan menjadi rumit, dan berkembang kemana-mana.
Karakter the Dude diperankan oleh Jeff Bridges dengan sangat-sangat pas. Sebuah karakter Slacker, the man of his time and place. Sebuah representasi dari masa awal 90an, yang rileks dan tanpa beban. Di era belakangan ini di dunia yang dipenuhi motivator dan penjual mimpi dan obsesi, kita seakan merindukan karakter slacker semacam ini, seseorang yang seolah terbebas dari ambisi yang muluk-muluk, seperti dia bilang “the dude is not greedy, he only wants his rug back, it really tied the room together.”
Ada juga karakter Walter Sobchak, diperankan oleh John Goodman, seorang veteran vietnam yang meledak-ledak. Dan Donnie, diperankan oleh Steve Buscemi, yang timid, dan halus.


Film ini juga membicarakan filsafat yang cukup dalam, dan penonton mungkin tidak akan bisa menangkapnya kalau tidak memperhatikan betul-betul, atau menontonnya berkali-kali. Film ini dengan santainya mendiskusikan, atau bahkan mencibir secara ringan dan mengena konsep-konsep nihilisme, sosialisme, pasifisme, dll. Soal maknanya apa saya kira tak usahlah dibincangkan lagi, pada titik ini kita seharusnya paham bahwa film Coen brothers bukanlah sesuatu yang harus diberi makna yang tunggal dan saklek. Film Coen brothers, khususnya film ini, sangatlah cair, setiap orang akan punya makna sendiri-sendiri, setiap orang bisa membuat interpretasi sendiri-sendiri, termasuk soal ceritanya, apa yang sebenarnya terjadi dengan uang satu juta dolar itu, kemana perginya, apakah memang benar ada, dan sebagainya. Coen borthers menyajikan semua potongan kemungkinan itu di depan mata, dan kita bebas menyusunnya sendiri sesuka hati.


Ini adalah film jenius yang tidak sedikitpun memposisikan diri sebagai sok jenius, atau elit; malah sebaliknya, ringan dan terkesan remeh. Tapi jangan remehkan film ini; resikonya: Anda mungkin akan terlihat seperti sebuah banyolan yang tidak lucu.

This entry was posted in Movies and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply