Exile On Main Street dan Anekdot Kolektor

Jadi dulu waktu awal koleksi piringan hitam, saya pernah nitip beberapa piringan hitam band-band 60-70an ke seorang teman yg kebetulan ada di Belanda, niatnya selain buat koleksi juga buat dijual lagi, karena di Belanda ternyata cukup murah. Jadi saya ambil beberapa plat Beatles, greatest hits Lou Reed, greatest hits the Doors, Rolling Stones album Exile on Main Street, greatest hits Bob Dylan, dan beberapa lagi. Saya berhasil menjual beberapa plat itu dengan harga yang cukup lumayan. Saya ingat album Sgt. Peppers Lonely Heart Club Band nya Beatles laku 300 ribu, harga yang cukup tinggi, kalau dipikir lagi.

Continue reading

Posted in random, Records | Tagged , , , | Leave a comment

A Subjective List of 20 best Indie Rock and Whatnots albums of 2011

List ini saya bikin kemarin atas paksaan dari teman-teman di majalah sintetik, sebenarnya. Seperti judul di atas, list ini cukup subjektif, 20 album yang paling saya suka di tahun 2011. Tahun ini tidak terlalu buruk untuk musik, sebenarnya, asal kamu mendapat kesempatan menemukan album-album bagus. Seringnya arus informasi datang begitu cepat dan bertubi-tubi, sehingga kita bingung memilah mana karya yang bagus dan mana yang tidak bagus, terlebih lagi untuk karya-karya yang tidak mainstream.

Satu hal yang sangat saya nikmati tahun ini adalah perkembangan signifikan dari revival 90s emo, dengan munculnya band-band yang terinfluens Sunny Day Real Estate, American Football, Texas is the Reason, The Promise Ring dan lain-lain, yang kemudian merilis album-album keren yang bukan hanya sekedar copy paste dari influens mereka. Okay, silahkan nikmati list saya, yang sekali lagi, purely subjective, dan not in particular order :)
Continue reading

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Neutral Milk Hotel, Misteri Abadi Jeff Mangum, bagian 1

Oleh Stephen M. Deusner, alih bahasa oleh A. Yasmeen

Menulis mengenai Jeff Mangum berarti menulis hal-hal yang ada disekitar Jeff Mangum. Mantan otak Neutral Milk Hotel ini adalah salah satu penyendiri indie rock terbesar, seorang seniman yang merilis mahakarya yang menghantam secara emosional pada tahun 1998 dan kemudian keluar dari lingkungan musik. Selama bertahun-tahun, dia lebih seperti sebuah misteri daripada seseorang: Dia sangat jarang melakukan show, tidak pernah memberi wawancara, tidak pernah merekam musik baru, tidak pernah memperhatikan pasukan fans dan pengikutnya yang kian hari kian bertambah. Rumor yang berkembang pesat: Apakah Mangum telah menjadi korban mental rock ’n’ roll, dengan kesehatan psikologis rentan seperti Syd Barrett dan Nick Drake? Atau apakah dia sangat terluka secara emosional dari pengalaman menulis In the Aeroplane Over the Sea sehingga dia mengasingkan diri dari sorotan untuk menenangkan jiwanya? Apakah dia meninggalkan musik untuk selamanya? Apakah dia mendalami seni visual saja? Apakah dia nyata? Atau hanya sebuah hoax? Sebuah tipuan? Hanya sebuah figmen dari imajinasi kolektif kita? Continue reading

Posted in Records, Stuff | Tagged , , , | Leave a comment

Short Attention Span

Jadi kemarin saya menemukan sebuah diagram yang cukup menarik soal penelitian efek social media sites pada otak manusia, dan bagaimana efeknya bisa kita rasakan.
Salah satu yang paling signifikan adalah menurunnya attention span, atau rentang perhatian pikiran kita, periode waktu dimana kita bisa memfokuskan pikiran pada suatu hal. Dijelaskan bahwa derasnya arus informasi yang kita terima membuat otak kita beradaptasi; kini otak kita bisa berfokus pada berbagai hal secara bergantian. Ini mungkin tidak terdengar buruk, tapi coba pahami, ketika kita berfokus pada bermacam-macam hal pada waktu yang singkat, kita tidak akan mampu memahami suatu hal yang mendalam. Ini seperti ungkapan lama, “Jack of All Trades, Master of None”. Seseorang yang bisa banyak hal, tapi tidak ahli dalam hal apapun.
Di artikel tersebut diungkapkan bahwa attention span rata-rata saat ini, sehubungan dengan efek social media adalah 5 detik, sementara sepuluh tahun yang lalu, sebelum situs media sosial populer, attention span rata-rata adalah 12 menit. Sungguh perbedaan yang signifikan. Gampangnya bisa dikatakan bahwa rata-rata orang di tahun 2000 bisa memperhatikan sesuatu dengan baik selama 12 menit, sementara orang saat ini hanya bisa fokus dan memperhatikan sesuatu selama lima detik.
Saya sendiri merasakan bagaimana hari-hari ini susahnya fokus pada suatu hal dalam waktu yang agak lama. Untuk kasus saya terutama mungkin karena Twitter. Sumber berita utama saya hari-hari ini, dimana arus informasi begitu deras mengalir. Ketika saya membuka link web yang ditulis seseorang di tweetnya, dan menunggu web itu terbuka, saya akan melihat tweet-tweet baru yang bermunculan, dan kadang membuka link lain, kadang sampai lupa apa tadi yang pertama akan dilihat.
Saya tidak tahu apa efeknya, tapi yang jelas kehilangan fokus itu sangat menyebalkan. Mungkin diantara teman-teman ada yang punya ide untuk melatih fokus dan meningkatkan attention span, monggo lho di share di bagian komentar :) Continue reading

Posted in random, Stuff | Tagged , , , | 2 Comments

Psychic Cosmonaut Mixtape

Ini adalah sebuah mixtape yang saya buat untuk pameran Temper Tantrum tempo hari. Berisi beberapa track doom/stoner/psychedelic/whatnots. Satu alasan kenapa saya memilih tema psychedelic stoner adalah karena pameran itu mengambil tema autisme. Saya tidak terlalu paham dengan autisme, tapi dari apa yang saya tahu, anak autistik seperti selalu tenggelam dalam dunianya sendiri, seperti berada di alam yang lain. Kira-kira itu juga yang saya rasakan ketika mendengarkan band-band seperti Om, Colour Haze, Earthless, dsb, dimana durasi lagu yang relatif panjang tidak terasa lama karena kita begitu menyatu dan terbang tenggelam dalam atmosfer masif yang dibangun oleh band tersebut. Beberapa band di dalam mixtape ini sangat influensial, beberapa cukup obscure dan underrated, semuanya sangat direkomendasikan. Continue reading

Posted in Records, Stuff | Tagged , , , , , , , , , , , | 2 Comments

Mutiny on the Electronic Bay

Rak piringan hitam saya sudah kepenuhan. Ini karena di rak itu saya juga menaruh semua CD dan beberapa buku. Akhirnya saya putuskan untuk beli rak baru, kebetulan nemu yang memadai dengan harga yg sangat masuk akal.
Lucunya, setelah itu jarum turntable saya patah. Jadi agak percuma juga rasanya sudah menyiapkan tempat yang bagus, malah tidak bisa memutar.
Ini sudah seminggu lebih saya tidak memutar piringan hitam. Hanya bisa memandangi artwork-artworknya saja. Kemarin datang sebuah plat pesanan yang sangat saya tunggu-tunggu, album Earthless favorit, Rythms from a Cosmic Sky. Earthless adalah trio instrumental jam/stoner/post rock/whatever dari San Diego terdiri dari drummer Mario Rubacalba (Hot Snakes, Rocket From the Crypt, Cikatat Ikatowi, dan belakangan di OFF! bersama eks vokalis Black Flag, Keith Morris), gitaris Isaiah Mitchell (Nebula), dan bassis Mike Eginton. Ini adalah album gila dengan sound yang banyak terpengaruh classic rock ‘n roll, stoner/doom metal, post rock, psychedelic rock, dan struktur ala jam band- album ini cuma terdiri dari dua lagu, Godspeed dan Sonic Prayer, yang masing-masing durasinya sekitar 20 menit, tapi jauh dari kesan monoton, apalagi membosankan. Oh iya, cover art nya juga sangat memukau, dengan packaging gatefold yang bagus. Hanya sayang platnya tidak color. atau picture disk. Saya membayangkan kalau ada versi picture disk atau colour dengan motif bintang-bintang luar angkasa seperti di kovernya pasti sangat ciamik.

Entah berapa lama lagi musti nunggu jarum selesai diganti dan bisa memutar kemegahan astral ala Earthless ini.

Posted in Records | Leave a comment

A Brief, yet Triumphant Intermission

Sekali lagi, bikin blog baru. Yang ini mungkin akan lebih difokuskan untuk hal hal kesukaan, seperti records collecting, buku-buku menarik yang terakhir saya baca, film bagus yang baru saya tonton, dan hal-hal remeh temeh lainnya.

enjoy :)

Posted in Books, Movies, Records, Stuff | 1 Comment

Menolak Clicktivism

Jalan ke depan tidak akan melalui mediasi layar komputer.
oleh Micah M. White

Photo by Kate Ferrara via Flickr
Foto oleh Ferrara Kate via Flickr 

Dunia sangat membutuhkan sebuah revolusi budaya. Sementara sebagian dari kita menjadi budak untuk menghasilkan obyek yang tidak akan pernah bisa kita beli, yang lain berleha-leha mengkonsumsi barang-barang mewah yang tidak mereka butuhkan. Keduanya tidak menghidupi hidup yang memuaskan, tidak juga bahagia dan keduanya berperan dalam penodaan berlanjut dan penghamburan sumberdaya bumi. Masyarakat konsumen didirikan dalam siklus setan yang merantai sebagian orang ke mesin pabrik dan lainnya ke layar monitor di kubikel kantor. Ini adalah siklus semakin tidak manusiawi yang berputar-putar di luar kendali, menyeret umat manusia ke dalam jurang kegilaan perang iklim dan budaya. Itu adalah hal yang banyak kita tahu. Satu hal yang belum jelas adalah bagaimana mengubah situasi itu.

Satu jawaban yang muncul dan mendominasi semua jawaban lain adalah bahwa masa depan aktivisme adalah secara online. Terpesona oleh janji mencapai satu juta orang dengan satu klik, perubahan sosial telah diserahkan kepada sebuah teknokrasi programmer dan “media sosial ahli” yang membangun website mewah, mahal dan kampanye viral yang mengumpulkan jutaan alamat email. Memperlakukan alamat email sebagai setara dengan anggota, organisasi semacam ini membanggakan ukuran besar dan mengesampingkan kecilnya dampak mereka. Itu semua hanyalah tentang kuantitas. Untuk terus tumbuh, mereka mulai berkonsultasi dengan ahli marketing yang meyakinkan mereka bahwa “praktek terbaik” memerintahkan untuk membuat pesan yang akan menarik bagi jumlah terbesar orang. Dengan demikian focus group, A / B testing, dan survei keanggotaan mengganti filosofi yang kuat, visi perubahan radikal, dan kader pendukung fanatik.

Tidak mengherankan jika kemudian kampanye mereka menyerupai iklan: pesan email telah diuji pasar dan klik metrik mendominasi semua pertimbangan lain. Dalam perlombaan untuk kuantitas, gairah yang tertinggal. Tetapi dengan setiap hari mereka merasa lebih sulit untuk memperoleh tanggapan dari “anggota” mereka. Tak lama kemudian, mereka mencapai rata-rata industri aktivisme-online yang menyedihkan: kurang dari satu dalam dua puluh anggota mereka mengklik email mereka, sisanya cukup menekan hapus. (Telah menjadi rahasia umum dalam organisasi Bay Area progresif bahwa tingkat respons 5% adalah norma.) Jadi, disamping besarnya ukuran daftar mereka mereka, mereka hanya bisa mengandalkan respon yang sangat kecil untuk setiap tindakan mereka. Untuk meningkatkan tingkat klik, mereka mempermudah pesan mereka dan membuat mereka “bertanya” lebih mudah dan melakukan “tindakan” yang lebih sederhana. Segera, penipuan “klik untuk tanda tangan petisi” diluncurkan dan membuka email saja sudah dianggap menandatangani petisi. Namun, sementara daftar keanggotaan mereka tumbuh lebih besar, bagian aktif dari basis mereka menghilang. Dan apa yang buruk, seperti yang disadari oleh aktivis yang baik, mereka sedang dikalahkan oleh kampanye iklan tidak jujur ​​yang menyamar sebagai agen sejati perubahan.

Dengan demikian, kita menemukan diri kita dalam situasi aneh di mana perubahan iklim dirayakan internasional oleh organisasi TckTckTck dengan 10 + juta anggota dan organisasi-organisasi 350 + mitra – termasuk Greenpeace, WWF, OXFAM dll – secara terselubung dijalankan oleh Havas Worldwide, perusahaan iklan terbesar keenam di dunia. klien Havas ‘termasuk Wal-Mart, Coca-Cola, Pfizer, BP dan seluruh orang yang harusnya disalahkan.

Dengan memutar aktivisme ke teknokrat, kita telah merugikan tradisi luhur meriah rakyat yang telah membawa umat manusia pada perkembangan egaliter. Kita telah menukar proses yang sulit untuk terlibat dalam dunia nyata perjuangan untuk kemudahan pengiriman email dan mengklik link. Dan saya mengatakan ini karena mengetahui bahwa aktivis-digital setuju dan generasi baru hanya terlalu bersemangat untuk menawarkan jasa mereka, menjajakan diri mereka sebagai pelopor dalam bidang canggih untuk mengubah alamat email jadi tubuh di jalan. Tetapi kita harus menolak klaim mereka atas keahlian dan keberhasilan yang ditentukan oleh kuantitas. Jalan ke depan tidak akan melalui mediasi layar.

Aktivisme, ketika dipahami dengan benar, bertujuan untuk revolusi dengan memukul pada akar. Ini menyebarkan kritik penting dari masyarakat yang tidak dapat diselesaikan, atau dijalankan, tanpa perubahan budaya besar. Tiap era harus mencari dan mengasah kritik itu dan dengan kegigihan menggunakannya untuk berulang kali menyerang tatanan sosial yang berlaku. Kritik penting dari generasi kita adalah perspektif mental lingkungan yang memahami konsumerisme sedang menjadi wabah di atas bumi didukung oleh polusi ekologi mental kita oleh pembuat iklan.

Masa depan aktivisme tidaklah online, aktivisme yang akan datang adalah pemberontakan rohani terhadap pencemaran pikiran. Dan itu dimulai dengan mematikan layar monitor kita.

Micah White is a Contributing Editor at Adbusters and an independent activist. He lives in Berkeley and is writing a book about the future of activism. www.micahmwhite.com or micah (at) adbusters.org

download file artikel orisinil:

clicktivism (pdf)

Clicktivism (.doc)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Kesalahan Google

Sebuah kejahatan terhadap pengetahuan.

Oleh Micah M. White

 

Baru-baru ini diumumkan bahwa Jaksa Agung Texas sedang menyelidiki Google karena diduga mengubah hasil pencarian yang merugikan pesaingnya. Dasar penyelidikan adalah asumsi bahwa setiap campur tangan manusia dalam hasil pencarian mesin Google yang dihasilkan melanggar prinsip “netralitas pencarian”. Meskipun patut dihargai bahwa perhatian akhirnya beralih ke kekuatan luar biasa Google untuk mendistorsi pengetahuan, mendasarkan serangan pada prinsip “netralitas pencarian” adalah cacat yang tak dapat disembuhkan. Jauh lebih dalam, kritik penting harus dilakukan terhadap komersialisasi Google atas pengetahuan.

Gagasan bahwa mesin pencari bisa, atau seharusnya, bersikap netral dapat ditelusuri kembali ke gerakan pustakawan kiri pada 1970-an. Dipimpin oleh Sanford Berman, salah satu orang yang pertama membawa pemberontakan sosial ke dalam perpustakaan, pustakawan radikal berpendapat bahwa sistem yang digunakan untuk mengatur buku pada dasarnya adalah bias dan rasis karena mencerminkan perspektif Barat. Pada waktu itu, dan sampai hari ini di perpustakaan umum dan akademik hampir semua, buku yang terorganisir dalam hierarki subjek. Berman percaya bahwa sistem ini sangat bermasalah. Dia menulis bahwa, “chauvinisme barat menembus skema [organisasi perpustakaan]“. Dan menyerukan “skema tanpa ketertarikan untuk pengaturan buku dan pengetahuan”. Dengan demikian, ia membuka jalan untuk mesin pencari.

Berman, dan generasi pustakawan radikal, menempatkan iman mereka dalam teknologi. Mereka beranggapan bahwa otomatisasi pengindeksan, apa yang sekarang kita sebut search engine, akan menyediakan “skema tanpa ketertarikan”. Dan kita lihat sekarang di tindakan Kejaksaan Agung Texas, asumsi cacat yang sama bahwa mesin pencari dapat “netral” atau “tanpa ketertarikan”.

Namun sejak awal, indeks telah bias. Indeks pertama, nenek moyang mesin pencari saat ini, telah dikembangkan di 1230 AD ketika tim 500 biksu dipimpin oleh Kardinal Dominika Perancis, Hugh of St Cler, menyelesaikan indeks pertama di dunia dari Alkitab. Itu adalah terobosan intelektual besar. Untuk para pendeta pertama kalinya, tanpa studi seumur hidup, dengan cepat bisa tahu setiap referensi dalam Alkitab kata-kata tertentu, seperti rahmat atau amal. Indeks memiliki dampak yang mendalam pada cara Alkitab dipelajari. Itu disebut konkordansi karena, sepert dijelaskan seorang sejarawan kontemporer, hal itu memungkinkan siswa teologi untuk “melihat kerukunan atau perjanjian dari kata kunci di berbagai lokasi mereka dalam Kitab Suci”. Indeks ini tidak hanya alat untuk mempelajari Alkitab, indeks ini mengubah cara Alkitab dipahami. Dengan kata lain, indeks itu bias dengan cara yang dianggap berguna.

Namun, pada abad kedelapan belas, intelektual seperti Jonathan Swift meramalkan bahwa indeks akan menjadi ancaman besar bagi kebijaksanaan. Mereka berpendapat bahwa indeks mendorong pendangkalan dan perselisihan. Mereka menyebut bentuk unik modern kebodohan “belajar indeks”. Dan menyalahkan ketidaktahuan modern di praktek melompat keluar masuk dari sebuah buku berdasarkan indeks dan bukan membaca secara mendalam. Bahkan sebelumnya, pada tahun 1661, Joseph Glanvil menulis, “menurut saya, ada sepotong menyedihkan pengetahuan yang dapat dipelajari dari indeks, dan ambisi yang miskin untuk menjadi kaya melalui inventarisasi harta orang lain.”

Terlepas dari apa yang dipikirkan oleh Swift dan Glanvil mengenai pembelajaran via indeks, pada awal abad 20 sudah ada mimpi untuk membangun sebuah “indeks universal” dari semua pengetahuan manusia. Salah satu yang pertama untuk mengusulkan gagasan ini adalah Henry Wheately. Pada tahun 1902 ia menulis sebuah deskripsi yang tepat dari Google: “Tujuan dari indeks umum hanya ini, bahwa apa saja, meski terputus bagaimanapun, bisa ditempatkan di sana, dan banyak hal lainnya yang akan hilang akan menemukan tempat-istirahat, Selalu tumbuh dan tidak pernah berpura-pura menjadi lengkap, indeks akan berguna untuk semua, dan orang yang bertanya kepadanya akan yakin untuk menemukan sesuatu yang dapat menjawab masalah mereka, jika tidak dapat menyelesaikan sepenuhnya “. Wheately berada di depan zamannya. Tanpa komputer, rencananya tidak mungkin. Namun, mimpi itu terus ada dan pada 1960-an, komputer telah diprogram untuk membangun indeks kata kunci. Ini akan mengambil empat puluh tahun lagi bagi Google untuk membuat visi Wheately tentang indeks universal jadi nyata.

Ketika kita menelusuri Google, kita tidak mencari di internet secara langsung. Sebaliknya, kita melihat indeks internet milik Google. Ketika kita mengetikkan apel, misalnya, seolah-olah kita membuka sebuah buku tak terhitung besarnya dan membalik ke bagian yang berisi daftar semua kata apel yang disebutkan di internet. Google adalah indeks, sebuah konkordansi pengetahuan manusia.

Ada masalah structural yang fundamental dengan pondasi intelektual dari search engine. Bahwa pencarian mengindeks potongan pengetahuan adalah benar. Bahwa mereka mendorong pembelajaran yang superfisial juga benar. Memang, seperti Nicholas Carr telah menulis, Google membuat kita bodoh. Masalah-masalah ini akan terus ada bahkan jika indeks benar-benar otomatis.

Masalah penting dengan Google adalah bahwa ia tidak lagi menganggap dirinya utamanya sebagai mesin pencari. Sebaliknya, Google percaya bahwa dia adalah sebuah perusahaan periklanan yang hasil pencariannya hanyalah pakan untuk pesan komersial. Ini adalah kejahatan yang telah dilakukan oleh Google. Hal ini tidak melanggar prinsip netralitas, sebuah ideal yang tidak pernah ada dalam sejarah organisasi pengetahuan. Google adalah kejahatan terhadap kebudayaan manusia.

Google telah mencuri pengetahuan umum kita dan mengkomersialisasikan perpustakaan pengetahuan. Konsekuensi budaya jangka panjang dari tindak pidana menyedihkan ini tidak jelas. Tapi langkah menjijikkan Google yang memasukkan iklan ke hasil pencarian adalah sesuatu yang harus diselidiki.

Sekarang adalah waktu untuk memulai penyelidikan substansial ke dalam praktek Google, bukan karena mereka melanggar “netralitas pencarian” tetapi karena mereka melanggar kebutuhan manusia akan pembelajaran yang bebas dari unsur komersial.

Micah White is a Contributing Editor at Adbusters and an independent activist. He lives in Berkeley and is writing a book about the future of activism. www.micahmwhite.com or micah (at) adbusters.org

download file artikel orisinil:

Google’s Flaw (pdf)

Google’s flaw (.doc)

Posted in Uncategorized | Leave a comment