Momen ‘Napster’ Demokrasi

Pertempuran habis-habisan antara kultur internet dan rezim kuno.

Julian Assange = Mendax

Dua puluh empat jam setelah Julian Assange ditangkap di London, seorang peternak lebah di Colorado membocorkan bukti memberatkan yang dapat menjelaskan mengapa 29 persen dari koloni lebah madu AS mati musim dingin yang lalu. Draft rahasia laporan Badan Perlindungan Lingkungan menjelaskan hubungan antara , pestisida laris Bayer, clothianidin, dan kematian misterius lebah. Pada hari-hari berikutnya bocoran – sebagian bersifat minor, sebagian signifikan, semuanya merusak status quo – bermunculan di seluruh dunia.

Sebuah bocoran agenda rapat mengungkap bahwa Menteri Kesehatan Kanada telah berbohong untuk menyembunyikan privatisasi pelayanan kesehatan di Alberta dari upaya-upaya pengawasan publik, sebuah laporan pemerintah yang diungkapkan internal Thailand menyatakan bahwa militer bertanggung jawab atas kematian tiga warga sipil selama kerusuhan Mei, bertentangan dengan klaim sebelumnya ; whistleblower yang mengaku bahwa sepuluh tahun yang lalu dia dibayar oleh FBI untuk menempatkan backdoor di OpenBSD,yang  sejak lama dianggap menjadi salah satu sistem operasi yang paling aman di dunia, dan seorang pengacara publik di Pakistan memberitahu nama kepala bagian mata-mata CIA yang bertanggung jawab atas serangan tak berawak di negaranya. Si mata-mata AS yang terbuka kedoknya, Jonathan Banks, terpaksa kabur karena gencarnya protes populer di tengah-tengah masyarakat yang marah.

Dan setelah semua itu, Wikileaks terus memasok dosis harian rahasia kabel Departemen Luar Negeri AS kepada dunia.

Meskipun ada  jaminan tak meyakinkan oleh Menteri Pertahanan US Gates bahwa kebocoran kabel akan memiliki konsekuensi kebijakan luar negeri yang “cukup sederhana” bagi Amerika, tapi semakin jelas bahwa munculnya Wikileaks menjadi sinyal pergeseran geopolitik yang fundamental. Meme transparansi dan aliran informasi yang bebas, ide-ide yang mendukung internet, akhirnya mulai memiliki konsekuensi politik yang konkrit. Ini seperti yang dikatakan oleh seorang komentator di BBC, “Democracy’s Napster Moment (Momen Napster bagi Demokrasi).” Karena sama seperti Napster menghancurkan industri rekaman, demikian juga gerakan pembocoran rahasia seperti dicontohkan oleh Wikileaks memiliki potensi untuk mengguncang narasi dan hegemoni budaya Barat.

Ini adalah sebuah drama yang masih berlangsung. Assange mungkin diekstradisi, hilang, atau dibunuh. Wikileaks dapat berkembang atau mungkin menjadi sasaran dari serangan internet yang belum pernah terbayangkan. Perancis telah mensahkan hukum sensor internet, dan sekarang ada pembicaraan bahwa PBB sedang bekerja untuk menciptakan inisiatif serupa pada skala global. Pada minggu-minggu dan bulan-bulan mendatang, kita bisa mengharapkan pertempuran habis-habisan antara budaya internet dan rezim kuno. Terlalu dini untuk mengetahui dengan pasti siapa yang akan keluar sebagai pemenang.

Tapi bagaimana dengan Julian Assange, pendiri Wikileaks? Hanya ada relatif sedikit omongan tentang motivasinya. Kebanyakan media mainstream menganggapnya egois, tetapi ada sesuatu pada sikap pengorbanan diri, Penghancuran diri demi mengejar Kebenaran, yang tidak nampak egois, atau hanya mengejar ketenaran. Mungkinkah ada motivasi lain selain dari egoisme?

Sebuah cerita tentang masa kecil Assange baru-baru ini muncul, dan mungkin dapat membantu menjelaskan asal-usul Wikileaks.

Desas-desusnya Julian Assange pernah menjadi seorang hacker luar biasa Australia dengan nama samaran Mendax. Jika benar, hal ini penting karena Assange bekerja sebagai peneliti di Underground, sebuah buku 1997 tentang komunitas hacker, di mana kisah tokoh Mendax menonjol.

Kutipan berikut dari Bab 8 Underground mungkin merupakan petunjuk penting dalam mengungkap asal-usul Wikileaks.

Suatu malam di Adelaide, ketika Mendax sekitar empat tahun, ibunya dan seorang temannya kembali dari pertemuan pengunjuk rasa anti-nuklir. Teman itu mengaku memiliki bukti ilmiah bahwa Inggris telah melakukan tes nuklir dengan efek tinggi di atas tanah di Maralinga, daerah gurun di barat laut Australia Selatan.

Sebuah Tim Kerajaan  tahun 1984 mengungkapkan bahwa antara tahun 1953 dan 1963, pemerintah Inggris telah menguji bom nuklir di situs tersebut, mengusir lebih dari 5000 orang Aborijin dari tanah asal mereka. Pada bulan Desember 1993, setelah bertahun-tahun mengulur-ulur, pemerintah Inggris setuju untuk membayar 20 juta pundsterling untuk membersihkan lebih dari 200 kilometer persegi tanah yang terkontaminasi. Kembali pada tahun 1968, pemerintahan Menzies telah menandatangani surat tanggung jawab Inggris untuk membersihkan situs tersebut. Namun pada 1970-an, pemerintah Australia masih menyangkal apa yang telah terjadi di Maralinga.

Ketika ibu Mendax dan temannya melaju melalui pinggiran kota Adelaide membawa bukti awal dari tragedi Maralinga, mereka melihat mereka sedang diikuti oleh sebuah mobil tidak bernomor. Mereka mencoba menghilangkan jejak, tidak berhasil. Sang sahabat, gugup, mengatakan ia harus memberikan datanya ke seorang wartawan Adelaide sebelum polisi bisa menghentikannya. Ibu Mendax dengan cepat masuk ke jalur pinggir dan sang sahabat melompat dari mobil. Dia melaju, dengan polisi masih mengikutinya.

Si Polisi berpakaian polos-kemudian meminggirkan mobilnya menggeledah dan menuntut untuk mengetahui kemana temannya pergi dan apa yang telah terjadi pada pertemuan tersebut. Ketika dia tidak banyak membantu, seorang petugas mengatakan kepadanya, `Anda bersama anak kecil keluar jam 2 di pagi hari. Saya pikir Anda harus keluar dari politik, bu. Bisa dikatakan Anda seorang ibu yang tidak layak ‘.

Beberapa hari setelah ancaman terselubung tersebut, temannya muncul di rumah ibu Mendax’s, dengan memar-memar yang mulai memudar. Dia mengatakan polisi memukuli dia, kemudian menjebaknya dengan menaruh narkotika padanya. `Aku keluar dari politik,” katanya.

Untuk sisa cerita tentang Assange / Mendax, dan cerita rinci dari banyak hacks yang dia lakukan, baca Underground secara online gratis atau tonton dokumenter WikiRebels.

Micah White

download file orisinil:

Democracy-napster (pdf)

Democracy-napster (.doc)

Posted in Uncategorized | Leave a comment

What is Mental Environmentalism?

A brief history of “The Journal of the Mental Environment.”

Photo by James Porto, jamesporto.com
Photo by James Porto, jamesporto.com 

The core idea behind Adbusters, the essential critique that motivates our struggle against consumer society, is mental environmentalism. And for seventeen years, since the seventh issue of Adbusters was published in 1993, the subtitle of the magazine has been “The Journal of the Mental Environment”. But, what exactly is mental environmentalism?

Adbusters was founded in 1989 by Kalle Lasn and Bill Schmalz, a duo of award-winning documentary filmmakers living in Vancouver, British Columbia. Since the early 1980s, Lasn had been making films that explored the spiritual and cultural lessons the West could learn from the Japanese experience with capitalism. One film in particular, Satori in the Right Cortex (1985), anticipates the culture jammer emphasis on sparking life-changing epiphanies. The experience of satori, the Buddhist word for a flash of intuitive enlightenment, became a founding tactical insight for the culture jammer movement.

In a 2001 interview with the Kyoto Journal, Lasn explained the importance of this film on the theory behind Adbusters:

“When I was shooting a film in Japan called Satori in the Right Cortex, I asked the head monk of a Zen monastery in Kamakura if I could take footage of his disciples meditating. Yes, he said, but first you must meditate. When I emerged after a few days of physical and psychological torture, something really had happened to me. The monk had forced an interruption of my easy routine, and I came out the other end humble, euphoric and changed. Maybe only when you are shoved into a new pattern of behavior like that, it is possible to catch a glimpse of the way life could be. Culture jamming is based on the same concept. It’s a way of stopping the flow of the consumer spectacle long enough to adjust your set.”

Likewise, Adbusters itself was born out of a life-changing epiphany.

Forests Forever – British Columbia Council of Forest Industries

Talking Rainforest – Adbusters Media Foundation

In 1988, the British Columbia Council of Forest Industries, the “voice” of the logging industry, was facing tremendous public pressure from a growing environmentalist movement. The logging industry fought back with a television ad campaign called “Forests Forever“. It was an early example of “greenwashing”: shots of happy children, workers and animals with a kindly, trustworthy sounding narrator who assured the public that the logging industry was protecting the forest.

Lasn and Shmalz were outraged by the blatant use of the public airwaves to deliver deceptive anti-environmentalist propaganda. And they fought back by producing the “Talking Rainforest” anti-ad in which an old-growth tree explains to a sapling that “a tree farm is not a forest”. But when the meme warrior duo went to buy airtime on the same stations that had aired the forest industry ad, they were refused. Adbusters was born in the startling realization that citizens do not have the same access to the information flows as corporations. One of our key campaigns continues to be the Media Carta, a “movement to enshrine The Right to Communicate in the constitutions of all free nations, and in the Universal Declaration of Human Rights”.

For Adbusters, concern over the flow of information goes beyond the desire to protect democratic transparency, freedom of speech or the public’s access to the airwaves. Although these are worthwhile causes, Adbusters instead situates the battle of the mind at the center of its political agenda. Fighting to counter pro-consumerist advertising is done not as a means to an end, but as the end in itself. This shift in emphasis is a crucial element of mental environmentalism.

If a key insight of environmentalism was that external reality, nature, could be polluted by industrial toxins, the key insight of mental environmentalism is that internal reality, our minds, can be polluted by infotoxins. Mental environmentalism draws a connection between the pollution of our minds by commercial messaging and the social, environmental, financial and ethical catastrophes that loom before humanity. Mental environmentalists argue that a whole range of phenomenon from the BP oil spill to the emergence of crony-democracy to the mass extinction of animals to the significant increase in mental illnesses are directly caused by the three thousand advertisements that assault our minds each day. And rather than treat the symptoms, by rushing to scrub the oil soaked beaches or passing watered down environmental protection legislation, mental environmentalists target the root cause: the advertising industry that fuels consumerism.

Our minds are polluted by an overwhelming propaganda assault that colors our beliefs, desires and perception of reality. Fighting back is thus far more difficult that protesting in the streets or clicking a few links. This brings us back to the concept of satori. Breaking out of the consumer mindscape takes a fundamental shift of perspective, an epiphany, after which everything is seen with new eyes.

Mental environmentalism is an emergent movement that in the coming years will be recognized as the fundamental social struggle of our era. It is both a unifying struggle – among mental environmentalists there are everything from conservative Mormons to far-left anarchists – and a struggle that finally, concretely explains the cause of the diversity of ills that threaten us.

To escape the mental chains, and finally pull off the glorious emancipatory revolution the left has so long hoped for, we must become meme warriors who, through the use of culture jamming, spark a wave of epiphanies that shatter the consumerist worldview.

Micah White

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Pavement: Greatest. Indie-est. Band. Ever.

Pavement telah menghasilkan bunyi-bunyian slacker terbaik dan paling berpengaruh pada 90an, mengundang banyak sekali komentar kritik sepanjang perjalanan musikal mereka. Kini, satu dekade setelah pertunjukan terakhir mereka, Stephen Malkmus dan teman-teman se-band nya sekali lagi akan beraksi. Chuck Klosterman memberi salut pada mereka

Oleh Chuck Klosterman

Maret 2010

pavement circa 1993

“Saya kira Anda tidak suka olahraga, kan?” Inilah yang Stephen Malkmus – si arsitek Enigmatik Pavement- tanyakan kepada saya ketika dia duduk di restoran Thailand-sandwich, menunggu bacon-nya. Dia membolak-balik santai sebuah koran alternatif lokal Portland Trail Blazers yang menampilkan Greg Oden pada cover, itu sehari sebelum Thanksgiving, jadi patella Oden masih belum meledak. Malkmus Sepertinya Sedikit (tapi tidak secara khusus) terganggu, Orangtua istrinya ada di kota untuk liburan, dia hanya menghabiskan sembilan puluh menit terakhir di pesta sekolah untuk putrinya 6 tahun, dan sekarang dia harus menghabuskan dua jam dengan Beberapa orang bodoh yang mungkin tidak tahu mengapa Greg Oden menarik. Dia terus menunduk ketika ia berbicara. Pada saat ini, Stephen Malkmus terlihat sangat seperti Stephen Malkmus Bahkan jadi seperti Sarkasme. Bahkan, dia terlihat seperti orang yang memerankan Stephen Malkmus dalam sebuah film Cameron Crowe yang disalahpahami: tidak bercukur, memakai high-top Pony yang tidak lagi ada di pasaran, dan topi baseball-nya mempromosikan Silver Jews. T-shirtnya menampilkan logo Joggers, sebuah band Portland yang ketenaran terbesarnya adalah mengklaim disebutkan dalam cerita GQ tentang Stephen Malkmus makan di toko Thai-sandwich. Restoran ini berisik, jadi awalnya saya salah mendengar pertanyaannya. Dia bertanya lagi.

“Saya katakan, saya kira Anda tidak suka olahraga.” Saya katakan padanya Bahwa saya suka olahraga. Saya katakan padanya Itu-Jujur, Saya mungkin lebih memenuhi syarat untuk berbicara tentang olahraga dengan rahim daripada saya berbicara tentang Pavement dengan rahim. Segera, semuanya berubah. Dia tidak lagi jengkel, kecuali ketika saya sarankan Greg Olden Itu Mungkin tidak lebih baik dari Erick Dampier. Selama empat puluh lima menit berikutnya, Kami membahas tim fantasi kita masing-masing, nonstop. Saya tidak bisa melebih-lebihkan derajat Malkmus menikmati olahraga fantasi, ia Sepertinya lebih suka hal itu daripada musik. Tim football fantasi nya hancur oleh hilangnya Ronnie Brown karena cedera, tapi dia tetap tinggal dalam perburuan playoff dengan mengambil Wide receiver Viking, Sidney Rice. (“Anda Bisa saja segera tahu dia akan menjadi orangnya Favre.”) Pemain paling produktif di tim NBA nya Pacers adalah forward Danny Granger yang kurang publikasi, tapi dia lebih puas tentang mencuri Nets ‘Chris Douglas-Roberts off. Malkmus tidak menonton NHL, namun ia masih ikut serta dalam liga hoki fantasi. Dia pria semacam itu. Saya bahkan tidak mencoba untuk berbicara tentang sekitar rahim bisbol rotisserie.

Hampir setelah satu jam berlalu, saya menyadari kita harus mulai berbicara tentang musik, sebagian karena itulah motif untuk cerita ini tetapi kebanyakan karena Pavement adalah band yang layak dibicarakan. Kami meninggalkan restoran dan masuk ke Audi nya, ia menggulung rokok dengan merek tembakau Belanda Samson. Saya melihat Malkmus tidak mengenakan sabuk pengaman, juga tidak memberitahu saya untuk memakai sabuk pengaman saya. Segera saya merasa lebih nyaman.

Rencana awalnya adalah untuk bertemu di rumah Malkmus dan berbicara tentang show-show reuni Pavement yang akan datang, empat show terjual habis di New York dua belas bulan penuh sebelumnya. (Tur Dunia dimulai di seluruh dunia bulan ini di Selandia Baru.) Malkmus bertemu saya di pintu depan dan berkata, “Oke, inilah rencana baru yang saya yakin Anda bisa memakluminya.. Putri saya ada acara Thanksgiving Feast di sekolah, benar dan saya? saya akan pergi ke sana selama satu jam. Apakah Anda suka kopi Sebenarnya,? itu tidak masalah. Saya akan menemui Anda di sebuah kedai kopi satu jam lagi.” Dia memberi saya arah ke kedai kopi, dan Itulah kemana saya akan pergi. Sepertinya Malkmus sangat terbiasa dengan orang-orang mengatakan apa yang harus dilakukan, dia sopan, tapi ia Berbicara dengan jelas, dengan kalimat langsung. Ketika dia muncul di kedai kopi seratus menit kemudian, hal pertama yang dia bilang adalah, meskipun di sekolah ada thanksgiving-dia masih lapar. “Itu potluck,” katanya. “Saya tidak makan potluck.” Kami pergi ke tempat Thai, ia Membeli $ 9 bacon  sandwich-oriented.

Setelah Kita bicara tentang olahraga, aku mencoba membujuknya  untuk membawa saya kembali ke rumahnya. “Saat ini agak gila di sana,” katanya. “Mungkin tidak hari ini.” Kami Putuskan untuk pergi ke taman sebagai gantinya. Saya mencoba untuk berbicara tentang musik pada setelah sampai, tapi Malkmus ingin bicara tentang buku. Ia baru saja kembali dari sebuah festival di Belanda dan Belgia yang menampilkan musisi dan penulis, dan dia berbicara tentang ia melihat, Nick Kent (“Istri saya benar-benar mencintai buku Stonesnya ketika ia masih kuliah”), Denis Johnson (“Dia punya banyak untuk dibanggakan “), Jay McInerney yang agak mabuk (” Dia tampak persis seperti foto penulis nya. “) Malkmus suka gosip dari apa yang mungkin dibayangkan-dia tidak pernah kejam, tapi ia suka berbicara tentang bagaimana kepribadian seorang seniman adalah baik terpisah dan tidak dapat diputuskan dari bagaimana seninya dikonsumsi. Ia suka bicara tentang penulis seperti penggemar Pavement suka bicara tentang Pavement.

Ada masalah yang melekat ketika menulis tentang pavement: Orang-orang cenderung tahu apa-apa atau segala sesuatu tentang Mereka. Untuk sebagian besar orang, Mereka adalah sebuah band dengan nama yang lucu, satu minor hit MTV (1994 “Cut Your Hair”), dan banyak kredibilitas abstrak yang membuat orang yang marah di radio. Namun untuk jenis hyperintellectual, pengangguran yang tidak merasa aneh untuk membeli tiket konser setahun sebelumnya-dan orang yang akan membeli kumpulan gratest hits band bahkan jika mereka sudah memiliki semua albumnya, mereka adalah pengejawantahan estetika indie, “Rockband terbaik dari 90-an,” Menurut mantan kritikus Village Voice Robert Christgau. Mereka diingat sebagai pusat musik era lo-fi, penunjukan yang benar secara rohani, tapi secara teknis salah. ¹ Selama kurun waktu lima album dan sembilan ep, Pavement menjadi sebuah band yang mendefinisikan dekade, secara luas dianggap sebagai penting dan mengubah aturan main (antara mereka yang cukup peduli). Malkmus benar-benar menyadari hal ini. Kasus ini menjadi, saya kembali ke diskusi kita tentang Jay McInerney: Karena hampir semua orang sekarang mengakui McInerney sebagai seorang penulis yang dipengaruhi oleh longsoran salju kritik yang ia terima di tahun-tahun Setelah Bright Light, Big City, saya bertanya pada Malkmus apakah dia memiliki pengalaman sebaliknya: Apakah yang selalu dibilang sebagai jenius menjadikan Anda jenius? Apakah banyak orang yang ngotot mengatakan bahwa Slanted Enchanted itu brilian dan mengubah cara pandangnya atas lagu-lagu itu saat ini?

“Tentu saja iya, dalam hal tertentu, Tetapi tidak peduli berapa umpan balik positif yang Anda dapatkan, itu tidak cukup,.” Kata Malkmus. “Saya bukan orang yang dengan ketergantungan, namun sepertinya setiap review selalu bisa lebih baik. Dengan sesuatu seperti Slanted and Enchanted, suatu hal yang sangat tergantung waktu, bersama dengan fakta bahwa kekurangan nya adalah bagian besar dari apa yang membuatnya bagus, Ini tidak seperti album Radiohead, dimana semuanya bagus. Album kami tidak bagus secara seperti itu. Album kami adalah attitude dan style, semacam punk. Kami bagus seperti The Stroke. Saya pikir mungkin Slanted and Enchanted adalah album terbaik kami, hanya Karena itu kurang sadar diri dan memiliki energi yang tak dapat diulang. ”

1. Lo-fi adalah singkatan dari istilah-low fidelity, dan fidelity berarti bagaimana suara setia seperti dengan sumber aslinya. Sebenarnya, album dari band-band seperti Electric Light Orchestra dan Def Leppard memiliki fidelity yang jauh lebih rendah dari apapun yang dihasilkan pavement, seperti apa yang direkam tidak memiliki hubungan dengan apa yang hidup, bernapas Bisa terdengar seperti live band. Sebuah istilah yang lebih baik untuk pavement sebenarnya adalah mid-fi, Karena materi mereka jatuh di suatu tempat antara keaslian amatir dan konstruksi imajinatif. Tapi-seperti biasa realitas teknis selalu jarang dibahas dalam musik pop. Setiap kali orang normal mengatakan ia lebih suka musik lo-fi, itu berarti dia lebih memilih band-band seperti pavement: imperfect sound forevermore.

*taken from GQ

download file artikel orisinil:

Pavement-Greatest (pdf)

Pavement-Greatest (.doc)

Posted in Uncategorized | Leave a comment